Showing posts with label Materi. Show all posts
Showing posts with label Materi. Show all posts

Thursday, 18 April 2013

pathfinder untuk perpustakaan

Pathfinder :
salah satu bentuk upaya pustakawan untuk meningkatkan
jasa pelayanan rujukan kepada  pemustaka dalam menemukan kembali 
informasi di perpustakaan

"Istilah pathfinder berasal dari turunan kata ‘path’ yang berarti ‘jalan sempit/kecil’ dan ‘finder’ yang berarti ‘’penemu’, hal itu termuat dalam Kamus Besar bahasa Indonesia. Arti secara harfiahnya adalah penemu jalan kecil. Sedangkan istilah panduan pustaka sebenarnya merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris ‘Library pathfinder’, yang berarti merupakan checklist pengantar untuk subjek-subjek tertentu dan didesain untuk membimbing para pemustaka perpustakaan pada tahapan awal penelusuran literatur. Penggagas dari library pathfinder adalah Charles H. Stevens, seorang asociate director dari Library development, Project Intrex, Massachusets Institute of technology (MIT) amerika serikat.
Beberapa perpustakaanpun menyediakan saran pathfinder tersebut untuk membantu pemustaka pepustakaan, baik mahasiswa, dosen dan peneliti dalam penelusuran awal mereka. Dalam bentuknya, pathfinder merupakan sarana bantu cetak dalam pelayanan referensi. Sehingga tidak heran ketika kita di ruanagn referensi sebuah perpustakaan, maka sering kita menemukan bahan-bahan pathfinder, baik dalam bentuk dijilid seperti layaknya sebuah buku maupun bentuk seperti leaflet di meja informasi referensi.
Ada juga beberapa perpustakaan membuat pathfinder diperluas sampai pembuatan essei bibliografi yang merupakan studi pendalaman mengenai topik atau subjek tertentu. Didalam essei bobliografi tersebut, diuraikan mengenai sejauh mana sumber-sumber tersebut memenuhi informasi untuk topik yang dipilih, bagaimana efektivitasnya, sejauh mana saling keterkaitannya dan mana yang paling bermanfat. Pembuatan essei bibliografi inipun mampu melatih mahasiswa untuk mengevaluasi dan menentukan prioritas diantara bermacam-macam sumber referensi serta merancang strategi penelusuran" 

ABSTRAK


Berubahnya peran perpustakaan dari sebuah tempat atau sumber ke suatu "sistem", bahkan ke sebuah ‘cyber’, sangat menekankan kepada perpustakaan untuk dapat bertindak "lebih atraktif" kepada pemustaka perpustakaan dalam penyebaran informasinya. Kecocokan informasi yang ada, dengan kebutuhan pemustaka merupakan salah satu cara kita mengoptimalkan akses informasi."Pathfinder" merupakan isu penting dalam upaya menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi seseorang. Dengan pathfinder, pemustaka akan terpuaskan ketika mereka mencari isu-isu atau subjek penting yang sudah terkumpul menjadi satu di dalam sebuah ‘pathfinder’. Sistem penemuan kembali informasi tersebut berguna untuk me-"match"-kan apa yang tersedia, dengan apa yang dibutuhkan oleh pemustaka perpustakaan. Sehingga ‘eksplorasi’ informasi yang ada, lebih bisa di maksimalkan dan ‘dilahap’ oleh para pemustaka perpustakaan.

kata kunci : pathfinder, akses informasi.


Pendahuluan

Perpustakaan sebagai pusat (sumber) informasi dengan semua jasa layanannya dituntut untuk selalu siap membantu masyarakat pemustakanya memperoleh informasi yang dibutuhkan. Sekarang ini perpustakaan memainkan peran yang sangat penting dalam siklus transfer informasi yang sudah dikemas ulang oleh pustakawan untuk kemudian dimanfaatkan oleh pemustaka perpustakaan. Fungsi jasa layanan informasi yang telah begitu melekat pada perpustakaan, memaksa perpustakaan untuk bertindak sebagai antar muka (interface) antara dua dunia yaitu masyarakat sebagai kelompok pemustaka dan dunia sumber-sumber informasi, dalam bentuk tercetak maupoun bentuk lain. Fungsi perpustakaan seperti yang tertera pada Buku Pedoman Perpustakaan perguruan tinggi, yaitu merupakan unit pelaksana teknis perguruan tinggi yang bersama unit lain turut melakanakan Tridarma perguruan tinggi dengan cara memilih, menghimpun, mengolah, merawat dan melayankan sumber informasi kepada lembaga induknya pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Hal itu senada dengan yang termaktub dalam salah satu prinsip-prinsip kepustakawanan yaitu perpustakaan dimaksud untuk menyimpan dan memencarkan ilmu pengetahuan.

Untuk mengefektifkan dan mengoptimalkan jasa layanan informasi sumber-sumber yang ada diperpustakaan, maka perlu perumusan yang jelas mengenai tahap-tahap datangnya bahan pustaka atau sumber informasi, sampai kepada sumber informasi tersebut siap dilayankan. Sejak dari seleksi, pengadaan, pengolahan dan pelayanan sumber informasi (dalam hal ini termasuk penyediaan dan penyebaran) diharapkan akan segera dapat dimanfaatkan oleh pemustaka perpustakaan secara cepat, tepat dan akurat.

Pemustaka perpustakan memiliki latar belakang pendidikan, wawasan dan pengalaman yang berbeda, sehingga tingkat kebutuhan informasi mereka juga berbeda. Sehingga perpustakaan juga dituntut untuk menyediakan sarana atau alat bibliografi. Salah satu jenis sarana bibliografi tersebut dikenal dengan istilah ‘pathfinder’ atau panduan pustaka.


Peran jasa rujukan

Peran jasa rujukan di perpustakaan satu dengan yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dengan besar kecilnya perpustakan, jenis koleksinya dan fungsi serta tradisi perpustakaan. Sulistyo-Basuki mengatakan (1998 : 448) bahwa jasa rujukan di perpustakaan satu dengan yang lain berbeda-beda tergantung dengan beberapa faktor antara lain : situasi lokal, tradisi lokal, jenis pemustaka, besar klecilnya perpustakaan, sumber pustaka yang tersedia, serta pandangan hidup pustakawan yang menyangkut  organisasi dan administrasi perpustakaan. Sedangkan menurut Prytherch (1995 : 542) mengatakan bahwa “refrence work” is that branch of the library’s services which includes the assistance given to readers in their search for information on various subjects. Yang artinya adalah bahwa jasa referensi adalah sebuah jasa yang merupakan bagian dari sebuah perpustakaan  yang memberikan bantuan kepada pemustaka perpustakakan (bantuan jenis apapun) dalam rangka membatu mencarikan informasi bagi pemustakanya.

Dan berbagai jenis jasa rujukan yang lazim dilaksanakan di sebuah perpustakaan, menurut Sulistyo-Basuki  (1998 : 449) antara lain adalah :
1.      Pinjam antar perpustakaan
2.      Tandon (reservation)
3.      Orientasi perpustakaan dan instruksi bibliografi
4.      Kunjungan perpustakaan bagi anggota baru
5.      Menyelenggarakan pameranJasa bimbingan pembaca
6.      Jasa penmgindeksan dan abtrak
7.      Kompilasi bibliografi
8.      Pembuatan kliping
9.      Pembuatan jajaran vertikal (vertical file)

Sementara menurut American Library Association – Reference Service Division menyatakan ada 2 jenis jasa rujukan yaitu jasa langsung dan jasa Tidak Langsung. Jasa rujukan langsung adalah merupakan kegiatan pemberian bantuan personil langsung diberikan kepada pemustaka perpustakaan, artinya pustakawan langsung membantu mencarikan informasi. Sedangkan jasa rujukan tidak langsung dapat berupa penyusunan katalog, bibliografi, bantuan rujukan lainnya, pemilihan dokumen, penyusunan bagian referensi, pembuatan jajaran informasi relevan serta yang lainnya.


Fungsi-Fungsi Referensi


Agar pelayanan referensi dapat berjalan dengan baik,  petugas perlu memahami terlebih dahulu fungsi-fungsi referensi, yakni sebagai berikut.
1.      Fungsi Pengawasan
Petugas referensi dapat mengamati pengunjung, baik dalam hal kebutuhan informasi yang diperlukan maupun latar belakang sosial dan tingkat pendidikannya agar dapat menjawab pertanyaan dengan tepat.
2.      Fungsi Informasi
Fungsi yang terpenting dari pelayanan referensi adalah memberikan informasi kepada pengunjung, yaitu memberikan jawaban terhadap pertanyaan singkat maupun penelusuran informasi yang luas dan mendetail sesuai kebutuhan pemustaka.
Fungsi Bimbingan
Petugas referensi harus menyediakan waktu guna memberikan bimbingan kepada pemustaka perpustakaan untuk menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan, misalnya melalui katalog perpustakaan, buku-buku referensi, serta bahan pustaka lainnya.
3.      Fungsi Instruksi
Pemberian instruksi yang dimasudkan adalah sebagai cara untuk memperkenalkan kepada pemustaka tentang bagaimana menggunakan perpustakaan yang baik. Di samping itu, ditujukan juga kepada usaha untuk menggairahkan dan meningkatkan pemustakaan perpustakaan.
4.      Fungsi Bibliografis
Petugas referensi perlu secara teratur menyusun daftar bacaan atau bibliografi untuk keperluan penelitian atau mengenal bacaan yang baik dan menarik. Penyusunan bibliografi lazimnya dipergunakan untuk beberapa tujuan, antara lain:
a.       menyusun bibliografi  tentang subjek tertentu,
b.      menyusun bibliografi untuk mengenal daftar bacaan yang baik dan menarik, karya tulis, atas permintaan guru, siswa atau orang lain yang memerlukannya. (LpPI, 2001 : 123)

Dengan memaparkan pendekatan jasa rujukan diatas, maka kita sama-sama dapat merngetahui bahwa panduan piutaka atau pathfinder tersebut termasuk ke dalam jasa rujukan yang tidak langsung, artinya pathfinder diberikan kepad pemustaka perpustakan dengan berupa bahan, tulian yang berbentuk panduan ataupun leaflet.

Terkait dengan penelusuran rujukan di perpustakan, prinsip yang harus dipegang pustakwan adalah semua untuk kepentingan pemustaka. Seperti yang dikemukakan oleh Lancaster (1979) disebutkan bahwa temu balik informasi ialah proses penelusuran suatu koleksi dokumen ( dalam arti yang seluas-luasnya) untuk mengidentifikasi dokumen-dokumen tentang subjek tertentu. Dan sistem temu kembali informasi adalah setiap sistem yang dirancang untuk memudahkan kegiatan penelusuran bagi pemustaka. Sehingga pustakawan pun harus mengerti dan mengenal baik tentang sumber-sumber informasi yang akan disusun ke dalam pathfinder. Menurut Djatin (1996 : 6) bahwa sumber-sumber informasi terbagi menjadi 3 kelompok besar yaitu :
1.      Sumber informasi sekunder
Contohnya adalah buku-buku referensi, majalah abstrak, majalah indeks, pangkalan data dan katalog perpustakaan
2.      Sumber inormasi primer
Contoh konkrit adalah majalah ilmiah, buku-buku teks, buku-buku bidang khusus, paten dan standar
3.      Sumber informasi tesier
Contohnya sumber yang memuat daftar tebitan dari publikasi yang dimuat dalam sumber primer dan sekunder.

Disamping putakawan harus mengerti sumber-sumber informasi, maka pustakawanpun sudah selayaknya memahami sebuah klasifikasi pertanyaan, sebelum membuat dafta pathfinder. Pertanyaan referensi dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan. Berikut ini disajikan secara garis besar klasifikasi pertanyaan (LpPI, 2001 : 126), jenis pertanyaan referensi, dan sumber referensi yang dapat digunakan.


Klasifikasi Pertanyaan
Jenis Pertanyaan
Sumber Referensi
1.      Bahasa
Arti, asal kata, definisi, pengejaan, pengucapan, singkatan, istilah, kata asing, sinonim, lambang, dan simbol

Kamus

2.      Pemilihan bahan pustaka
Buku terbaik bidang pengetahuan tertentu, terbitan tertentu, perincian bibliografi, dan lokasi bahan pustaka
Bibliografi, katalog penerbit
3.      Data peristiwa
Kejadian-kejadian, statistik, tradisi, kebiasaan, dan catatan kejadian
Almanak,
Buku tahunan
4.      Latar belakang, pedoman
Informasi umum, bahan untuk belajar sendiri, dan cara mengerjakan sesuatu

Ensiklopedi, buku pegangan, manual, brosur, pamflet, ensiklopedi, biografi, direktori

5.      Manusia, orang, pribadi

Tokoh, pemimpin, spesialis, profesional, pengarang, dan orang-orang terkenal
Direktori, buku tahunan, almanak, brosur, pamflet

6.      Organisasi, dan   lembaga
Tujuan, keanggotaan, kegiatan, struktur, nama dan alamat
Sumber geografi, peta, atlas, dan kamus ilmu bumi
7.      Tempat
Lokasi, deskripsi, jarak, dan keterangan tempat
Alat peraga (AV)
8.      Ilustrasi
Bentuk, model, rupa, warna, film, dan rekaman
Handbook, buku tahunan,  buku pedoman (manual)
9.      Fakta

Statistik, kejadian, rumus
Lembaran negara, laporan pemerintah, terbitan pemerintah
10.  Aktivitas
Cara mengerjakan, cara membuat dan sebagainya
Buku pedoman (manual)
11.  Undang-Undang, peraturan
Perundang-undangan, peraturan, data, fakta resmi
Lembaran negara, kitab undang-undang, terbitan pemerintah




Asal muasal Pathfinder


Istilah pathfinder berasal dari turunan kata ‘path’ yang berarti ‘jalan sempit/kecil’ dan ‘finder’ yang berarti ‘’penemu’, hal itu termuat dalam Kamus Besar bahasa Indonesia. Arti secara harfiahnya adalah penemu jalan kecil. Sedangkan istilah panduan pustaka sebenarnya merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris ‘Library pathfinder’, yang berarti merupakan checklist pengantar untuk subjek-subjek tertentu dan didesain untuk membimbing para pemustaka perpustakaan pada tahapan awal penelusuran literatur. Penggagas dari library pathfinder adalah Charles H. Stevens, seorang asociate director dari Library development, Project Intrex, Massachusets Institute of technology (MIT) amerika serikat.
Sejak diperkenalkan, panduan pustak telah digunakan dalam berbagai hal. Salah satunya sebuah perusahaan penerbitan Adison Wesley, bahkan menjual sarana bantu pathfinder secara komersial. Beberapa perpustakaanpun menyediakan saran pathfinder tersebut untuk membantu pemustaka pepustakaan, baik mahasiswa, dosen dan peneliti dalam penelusuran awal mereka. Dalam bentuknya, pathfinder merupakan sarana bantu cetak dalam pelayanan referensi. Sehingga tidak heran ketika kita di ruanagn referensi sebuah perpustakaan, maka sering kita menemukan bahan-bahan psthfinder, baik dalam bentuk dijilid seperti layaknya sebuah buku maupun bentuk seperti leaflet di meja informasi referensi. Di Universitas  nebraska (Omaha), pathfinder diperluas sampai pembuatan essei bibliografi yang merupakan studi prendalaman mengenai topik atau subjek tertentu. Didalam essei bobliografi tersebut, diuraikan mengenai sejauh mana sumber-sumber tersebut memenuhi informasi untuk topik yang dipilih, bagaimana efektivitasnya, sejauh mana saling keterkaitannya dan mana yang paling bermanfat. Pembuatan essei bibliografi inipun mampu melatih mahasiswa untuk mengevaluasi dan menentukan prioritas diantara bermacam-macam sumbe referensi serta merancang trategi penelusuran.

Penyusunan pathfinder
Penyusunan pathfinder bisa diawali dengan membuat judul panduan yang diletakkan disebelah sudut kanan atas. Setelah menentukan judul panduannya (subjek tertentu) maka kemudian dilanjutkan dengan memberikan sebuah cakupan atau ruang lingkup dari subjek panduan yang dipilih. Cakupan atau ruang lingkup biasanya diambilkan dari sebuah rujukan berbentuk kamus ataupun ensiklopedia, diikuti dengan memberikan deskripsi bibliografi dari cakupan yang dikutip, bahkan samapai kepada call number yng sesuai dengan aturan di perpustakaan dimana koleksi tersebut berada.serta lokasi sumber rujukan yang digunakan dalam menuliskan cakupan. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan beberapa entri tajuk subjek dan nonor kelasnya yang sesuai dengan tsubjek atau topik yang dibuat, yang dapat digunakan untuk mencari koleksi yang terkait dengan subjek yang ditulis. Entri-entri tersebut dapat diambilkan lewat OPAC maupun lewat kartu katalog.
Setelah entri-entri nomor kelas dan tajuk subjeknya selesai, kemudian melakukan pendataan koleksi-koleksi mulai dari buku teks sampai kepada majalah indeks, yang meliputi :
1.      Buku-buku teks yang utama, atau buku-buku wajib
2.      Buku-buku teks anjuran
3.      Buku Pegangan, ensiklopedi dan kamus khusus
4.      Bibliografi
5.      Majalah indeks dan abstrak, terutama yang mendaftar karangan ilmiah
6.      Majalah primer
7.      Tinjauan perkembangan dan laporan pertemuan ilmiah
8.      Majalah indeks dan abstrak yang mendaftar laporan teknis

Perlu diperhatikan bahwa dalam menuliskan sumber-sumber nomor 1 sampai dengan nomor 8 seperti tersebut diatas, harus selalu disertai dengan deskripsi bibliografi lengkap dan lokasi dimana sumber-sumber tersebut berada. Hal itu semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pemustaka perpustakaan untuk dapat langsung mencari sumber-sumber rujukan di rak koleksi.

Format pathfinder


Secara umum menurut James ( 1981) format pathfinder yang disusun di perpustakaan adalah sebagai berikut :

JUDUL PANDUAN

· RUANG LINGKUP :
· Pengantar mengenai topik ini terdapat dalam sumber-sumber yang bernomor kelas dan bertajuk subjek sebagai berikut:
· BUKU-BUKU teks wajib mengenai topik ini adalah : 330.01, 330.10 (5 eks)
Berlokasi di :
· BUKU-BUKU anjuran mengenai topik ini adalah : 330.130 598  (5 eks)
Berlokasi di :
· BUKU PEGANGAN mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· ENSIKLOPEDI mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· KAMUS KHUSUS mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· BIBLIOGRAFI mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· ARTIKEL MAJALAH mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· MAJALAH mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· TINJAUAN PERKEMBANGAN mengenai topik ini adalah
Berlokasi di :
· LAPORAN PERTEMUAN ILMIAH mengenai topik ini adalah :
Berlokasi di :
· LAPORAN TEKNIS /PENELITIAN  dan jenis pustakan lain yang diindeks/disarikan dalam sumber-sumber berikut ini :
Berlokasi di :


Penutup


Di dunia perpustakaan, sebuah pekerjaan yang diemban pustakawan tidaklah berhenti sampai hanya batas melayani pemustaka perpustakaan. Masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan untuk memuaskan dan ‘memanjakan’ pemustaka, salah satunya penyediaan ‘pathfinder’ di ruang rujukan atau ruang referensi. Sehingga apa yang diinginkan pemustaka, dapat ditangkap dan dipeuhi oleh  pustawakan. Sebuah solusi yang barangkali dapat ditawarkan adalah yang terpenting adalah membangun persamaan persepsi mengenai temu kembali informasi oleh pemustaka perpustakaan yang dikaitkan dengan karakteristik profesi kepustakwanan, sehingga keduanya akan jalan seiring dengan segala kebutuhan yang dikehendaki, yang pada akhirnya dapat sesuai dengan prinsip kepustakawanan yaitu perpustakaan bertujuan menyimpan dan memencarkan ilmu pengetahuan. Semoga.

Selesai





REFERENSI

ALA.  Glossary of library and information science. 1983. Chicago : American Library Association.
Apostle, Richard and Boris Raymond. Librarianship and the information paradigma. Lanham, Md. & London : The Scarecrow Press, 1997.
Buckland, Michael. 1992. Redesigning Library Services ; A Manivesto. London : Library association.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1994. Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi  Depdikbud Dirjen Dikti edisi ke 2 , penyelia : Parlinah Moeldjono. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Djatin, Jusni. Penelusuran Literatur. 1996 Jakarta : Universitas Terbuka.
Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1990. Jakarta : Balai Pustaka.
Katz, William A. 1982.   Introduction to reference guide I & II. New York : McGraw-Hill.
Katz, William. 1979. Your Library : A Reference Guide. New York : Holt, Rinehart and Winston.
Lembaga pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi. 2001.Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Yogyakarta : LpPI dan FkBA.
Rice, James, Jr. 1981.Teaching Library Use : A Guide For Library Instruction. London : Greenwood Press.
Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Wedgeworth, Robert (ed.).1993. World encyclopedia of library and information services.3rd ed. Chicago : American Library Association.
@@@@@

Monday, 18 April 2011

“Melek Informasi” Kunci Menuju Sukses

PENDAHULUAN
Perpustakaan Perguruan Tinggi di era saat ini dan dibelahan bumi manapun sudah harus melakukan perubahan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat penggunanya. Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan yang begitu cepat berlimpah dan menyeluruh. Keadaan ini pula yang mendorong para pustakawan, serta pelaku pemanfaat informasi untuk berusaha keras agar dapat menangkap perkembangan dan kecepatan kehadiran informasi yang mutakhir agar mereka tidak tertinggal dalam perolehan informasi mutakhir.
Telah banyak usaha dilakukan baik oleh Perpustakaaan Perguruan Tinggi untuk menghadapi keadaan ini. Namun juga masih ada beberapa yang belum siap dengan perkembangan dan perubahan ini. Beberapa tulisan baik di media masa maupun pada seminar banyak membahas seputar Infonnation Skill, dan rupanya hal tersebut memang perlu dicermati, agar tidak tertinggal informasi.
Oleh karenanya pada terbitan ini penulis mencoba menuangkan tulisan yang terkait dengan masalah Information Skill tersebut, yakni “Melek Informasi” kunci menuju sukses. Pada tulisan ini akan dicermati tentang bagaimana pustakawan menyiapkan penggunanya agar terampil dalam mencari dan memanfaatkan informasi yang ada di perpustakaan serta upaya pustakawan dalam memenuhi kebutuhan penggunanya agar mereka dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan dengan cepat, tepat dan sesuai kebutuhan sehingga mereka dapat berhasil, paling tidak dalam menambah dan meningkatkan pengetahuan di bidang mereka masing-masing.

TEKNOLOGI INFORMASI
Teknologi informasi tidak dapat dielakkan dari pembicaraan yang menyangkut perpustakaan saat ini dan masa mendatang. Pengaruh perkembangan teknologi terhadap perpustakaan sangat banyak dirasakan, baik pengaruh yang menuju efesiensi dan efektifitas maupun dampak kesiapan pustakawan maupun pelaku penyedia informasi terhadap perubahan dan perkembangan itu sendiri. Dampak perubahan yang harus dihadapi maupun harus dilakukan oleh para pustakawan, penyedia informasi maupun pelaku pemanfaat informasi tersebut tidak hanya pada level pelaksana namun juga pada level managerial. Karena perubahan tanpa didukung kebijakan dan kemampuan managerial yang kuat akan merupakan impian semata.
Setiap Perpustakaaan Perguruan Tinggi sudah merupakan ‘keharusan’ yang tak terelakkan untuk menyediakan fasilitas bagi penggunanya yaitu berupa sarana yang mudah dan lengkap serta mutakhir untuk mengakses informasi baik yang tersedia di perpustakaan berupa ketersedian koleksi dan informasi yang berkualitas serta terbaru yang dapat diakses melalui “OPAC” atau catalogue online. Kemudian jaringan informasi yang sudah dibangun oleh perpustakaan tersebut disamping untuk melengkapi kebutuhan pengguna di perpustakaan itu sendiri, informasi tersebut juga harus dapat diakses dari mana saja termasuk dari rumah bagi mereka yang memerlukan dan memiliki fasilitas akses melalui internet. Semua perubahan layanan di perpustakaan yang sedemikian ini akan membawa dampak kepada peran pustakawan dan penyedia informasi dalam melayani penggunanya.

BAGAIMANA UNTUK MENYIAPKAN PENGGUNA “MELEK INFORMASI”?
Sebagaimana dikatakan oleh orang bijak bahwa untuk menjadi melek informasi seseorang harus ‘sadar’ apa, bagaimana dan kapan informasi tersebut dia perlukan. Kemudian dia harus juga mampu menemukan, mengevaluasi serta memanfaatkan infonnasi tersebut dengan baik dan bertanggung jawab.
Untuk menyiapkan agar tahu “APA dan KAPAN INFORMASI TERSEBUT DIBUTUHKAN?” maka pustakawan penyedia informasi harus:
  • Mampu memahami kebutuhan pengguna tersebut dengan bertanya, atau melakukan diskusi dengan mereka tentang ha1 yang berkaitan dengan kebutuhan informasi yang mereka butuhkan.
  • Apabila penyedia informasi telah mengetahui kebutuhan penggunanya maka ia harus dapat mengambil suatu kesimpulan apa yang sebenarnya yang tepat dan sesuai dengan keinginan pengguna tersebut.
  • Selanjutnya berdasarkan pada kecakapan pemahaman penyedia informasi terhadap kebutuhan penggunannya maka pustakawan penyedia informasi tersebut melakukan identifikasi terhadap sumber yang tepat yang akan digunakan untuk menelusur informasi dengan efektif dan efisien sesuai kebutuhan pengguna.
Pertanyaan selanjutnya adalah “BAGAIMANA CARA MENEMUKAN SUMBER INFORMASI YANG POTENSIAL dan SESUAI kebutuhan TERSEBUT?”.
Salah satu manfaat tugas pada pelayanan informasi dimana pustakawan yang sering melakukan reshelving koleksi ke rak, atau sering melakukan browsing internet ke situs-situs yang potensial akan sangat membantu penemuan informasi. Karena pada pustakawan penyedia informasi yang melakukan reshelving maupun browsing setidaknya dalam ingatan mereka sekilas akan terekam apa dan di mana informasi yang dibutuhkan tersebut berada atau tersedia. Pada kegiatan browsing tersebut juga merupakan kesempatan untuk memperluas wawasan bagi si petugas penyedia informasi dan pustakawan itu sendiri terhadap koleksi yang dimiliki perpustakaan baik yang dalam bentuk printed maupun audio visual. Adapun dengan browsing di internet menjadikan mereka mengetahui pusat dan sumber-sumber informasi yang potensial yang sering menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk melayani penggunannya. Selanjutnya pustakawan penyedia informasi juga perlu mengetahui kerjasama yang sudah dilakukan institusinya dengan instansi mana saja dan jaringan kerjasama apa saja yang sudah dibentuk. Dengan mengetahui dan memahami hal-hal tersebut diatas serta mengetahui pusat-pusat sumber informasi dan dokumentasi yang ada, akan sangat menolong pustakawan penyaji informasi tersebut dalam penelusuran dan penemuan sumber informasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Selanjutnya adalah “STRATEGI apa yang HARUS DI DILAKUKAN AGAR MUDAH dan EFISIEN DALAM PENELUSURAN INFORMASI?”
Untuk hal ini pustakawan maupun penyedia informasi harus menguasai strategi minimal ‘BOLEAN SEARCH’ dan pemanfaatan sumber-sumber referensi yang ada. Misalnya bagaimana menelusur melalui INDEX, Abstract, E~zcyclopedia dan sumber-sumber referensi lainnya baik yang manual maupun elektronik, Pustakawan dan penyaji informasi juga harus mampu melakukan penelusuran melalui internet, penelusuran dari sumber digital, dapat memanfatkan baik layanan e-mail serta meng ‘attach’ dokumen pada e-mail, maupun sarana-sarana teknologi informasi dan komunikasi lainnya.

Perlukah dilakukan EVALUASI agar PERPUSTAKAAN dan PUSAT INFORMASI tersebut TETAP DIMINATI?
Kalau berbicara mengenai EVALUASI maka kegiatan ini HARUS dilakukan agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh penggunanya. Pustakawan penyedia informasi harus senantiasa melakukan evaluasi baik terhadap jenis layanan yang disediakan, apakah masih tetap ataukah perlu dikembangkan sesuai dengan tuntutan keadaan perubahan maupun permintaan dari pengguna.Kemudian juga perlu diadakan evaluasi terhadap cara memberikan pelayanan apakah ‘totally digital’; konvensional atau semi digital, apakah tempatnya nyaman dan didukung sarana yang memadai dan selanjutnya yang tidak kalah penting adalah sumber daya manusia yang melayani juga perlu di evaluasi apakah yang bersangkutan masih tepat ‘dipertahankan’ pada posisinya. Karena dia mampu memberikan pelayanan yang dapat memuaskan pengguna atau dia harus dipindahkan karena ‘ kepribadian dan kemampuannya kurang sesuai di bagian pelayanan. Karena kalau penempatan petugas yang kurang sesuai dengan kapasitasnya dan tidak tepat dikemudian hari tentunya akan menimbulkan permasalahan terhadap image terhadap layanan tersebut.
Selanjutnya tentang masalah koleksi dan informasi yang tersedia apakah cukup UP TO DATE atau sudah OUT OF DATE. Hal ini perlu diadakan evaluasi yang berkala dan terus menerus agar dapat memberikan penyediaan informasi yang berkualitas agar kepuasan pengguna dapat dicapai.

BAGIMANA UPAYA MEMBERIKAN ‘TIPS’ PADA PENGGUNA supaya ‘MEMBURU’INFORMASI.
Pada masyarakat perguruan tinggi peningkatan kualitas keilmuan baik melalui jenjang pendidikan maupun penelitian adalah suatu tuntutan. Yang dimaksud dengan “Melek informasi” di sini, diartikan pada perolehan informasi yang benar di bidangnya, dibutuhkan, cepat, tepat, mutakhir dan lengkap. Apabila keadaan seperti ini dapat diciptakan maka besar kemungkinan seseorang pengguna perpustakaan tersebut menjadi ‘pemburu’informasi. Dan informasi yang tepat, akurat, terbaru, dan menyeluruh di bidangnya itu yang sangat dibutuhkan oleh pengguna. Sebagai gambaran seseorang dari berbagai profesi memanfaatkan sumber informasi di perpustakaanlpusat-pusat informasi biasanya disamping untuk menambah pengetahuannya juga terkadang untuk mendukung profesi dan pekerjaannya. Sedangkan bagi mahasiswa memanfaatkan perpustakaan adalah untuk menambah dan meningkatkan pengalaman di kelasnya, mempelajari keterampilan dalam menemukan sumber informasi dan meningkatkan kemampuan membaca yang lebih baik serta meningkatkan kebiasaan belajarnya. Nah sekarang bagaimana kiat perpustakaan dan pustakawan agar pengguna tersebut menjadi pemburu informasi untuk menuju ‘melek informasi’.
  1. Pengguna hendaknya diberi wawasan apa saja fasilitas dan koleksi serta informasi yang tersedia di Perpustakaan.
  2. Untuk mengurangi ‘tekanan’ pengguna dalam menemukan informasi hendaknya perpustakaan selalu menyelenggarakan USER EDUCATION secara berkala, terutama apabila selalu ada penambahan layanan dan fasilitas.
  3. Pengguna diberikan keterampilan dalam mengoperasi kan sarana-sarana penelusuran baik manual maupun elektronik agar dapat mengakses sendiri dengan efektif dan efisien.
  4. Disediakan panduan-panduan yang mudah dipahami pada setiap titik layanan.
  5. Menyediakan fasilitas yang memadai dengan memanfaatkan teknologi informasi agar lebih efektif dan efisien dalam pemanfaatan informasi.
  6. Menyediakan koleksi dan informasi yang sesuai dengan kurikulurn serta program-program yang ada di lembaga yang bersangkutan sesuai dengan jurnlah dan judulnya serta senantiasa mengikuti perkembangan koleksi dan informasi terbaru.
  7. Ditopang dengan Surnber Daya Manusia jumlah professional, dan santun.
  8. Suasana belajar yang menyenangkan, nyaman, dan aman.
PENUTUP
Untuk membekali agar pengguna lebih bergairah memanfaatkan informasi dan koleksi yang ada di perpustakaan tidak hanya cukup dengan rneningkatkan kualitas layanan, fasilitas, pernanfaatan teknologi inforrnasi dan sumber daya manusia yang cukup, namun juga diperlukan kesiapan untuk menghadapi perubahan yang saat ini dirasakan sangat cepat dan menyeluruh. Tidak mudah untuk melakukan perubahan, karena perlu kebijakan maupun pelaksana di lapangan. Harmonisasi antara pirnpinan institusi, pimpinan perpustakaan dan pelaksana akan sangat membantu pencapaian tujuan dengan mulus walaupun terkadang perlu mengadakan perubahan dan perombakan kebijakan. Semoga upaya dari pihak perpustakaan maupun instansi penyedia informasi mendapatkan respon yang positif dari pihak pengguna sehingga kenyamanan dan kepuasan dari kedua belah pihak dapat tercapai dan terlaksana.

DAFTAR BACAAN
  • California School Library Association. From Library Skill to Information Literacy: a handbook for the 21″, century. San Jose Hi Willow Research and Publishing, 1997.
  • ‘infoliteracy’ http://library.uwf.edu/infoliteracy 2005.
  • Jordan, Peter. 1998. The Academic Library and its users. England: Cower.
  • Pendit, Putu Laxman. Information literacy. Makalah Seminar Information skill. Batu, 2005.
  • Ratnaningsih. User Education Guideline for Airlangga University Library 2004.

Tuesday, 12 April 2011

Kemas Ulang Informasi (Information Repackaging)


1. PENDAHULUAN
Informasi  akan berguna bagi seseorang apabila   memberi nilai pengetahuan baru bagi
pemakainya.
Dengan  banyaknya  informasi  yang  muncul  di  dunia  ilmu,  pengetahuan  dan
teknologi semakin sulit orang untuk memperoleh informasi yang tepat baginya bahkan yang dapat langsung dimanfaatkan. Dengan demikian hal yang sangat dibutuhkan dan yang paling penting dari suatu informasi adalah penyajian informasi menjadi suatu kemasan yang bermanfaat dan tepat bagi pemakai. Untuk itu menjadi tantangan bagi petugas informasi apalagi seorang pustakawan untuk menyediakannya.


Keanekaragaman kreatifitas, inovasi serta kecepatan penyediaan informasi diperlukan bagi pusat dokumentasi, pusat informasi serta perpustakaan. Selain itu diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang professional dalam mengelola dan melayani masyarakat pemakai. SDM dituntut profesional, dalam hal ini adalah cepat tanggap terhadap perkembangan kebutuhan dengan menyajikan informasi yang dibutuhkan, mengikuti perkembangan sarana teknologi informasi dan telekomunikasi.

Informasi dikemas ulang agar dapat secara langsung dimanfaatkan pemakai atau pengguna informasi tanpa harus mengumpulkan, memilih atau mengolah terlebih dahulu bagi pemakainya. Setelah informasi dikemas ulang, hal yang tidak kalah penting adalah penyebarannya atau diseminasi informasi. Tanpa diseminasi ataupun promosi informasi yang telah dikemas atau disajikan tidak akan sampai ke penggunanya. Untuk suatu produk hasil kemas ulang informasi yang ditujukan untuk pemakai tertentu, selain diseminasi perlu dilakukan pemasaran, sehingga untuk produk hasil kemas ulang informasi yang ditujukan untuk pemakai secara komersial dihitung biaya proses pengolahan, analisis sampai penyebaran dan promosinya.

Pada makalah ini akan lebih banyak diuraikan kemas ulang informasi yang dilakukan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Namun juga akan sedikit dipaparkan kemasan-kemasan lain yang dapat diupayakan untuk memenuhi kebutuhan pemakai. Diharapkan dari uraian ini akan menambah wawasan petugas (calon) informasi dalam memberikan nilai tambah peran pustakwan atau petugas informasi serta memberikan solusi bagi orang dalam setiap melakukan kegiatan.

2. Diseminasi / Penyebaran Informasi

Merupakan kegiatan mendayagunakan informasi yang telah “dikelola” sehingga berguna bagi pemakai

2.1.  Misi dari Diseminasi Informasi antara lain:

•       Informasi sebagai alat untuk pengambilan keputusan

•       Informasi sebagai alat untuk menetapkan prioritas

•       Motivasi untuk kemampuan dan produktifitas kerja

2.2.  Tipe diseminasi Informasi

Pasif : Jasa pembaca, pemakaian pustaka , meja informasi
Responsif: Sirkulasi/peminjaman, penggandaan pustaka, penelusuran
Proaktif: Jasa kesiagaan info, Penyebaran info terseleksi Mengemas produk sesuai kebutuhan pengguna dan laku jual

3. KEMAS ULANG INFORMASI

3.1. Batasan Kemas Ulang Informasi:

Pengemasan informasi adalah salah satu kegiatan jasa informasi yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata informasi yang relevan,


menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai. Informasi yang dikemas kembali akan memberi kemudahan dalam penyebaran informasi dan temu kembali informasi.

3.2.  Tujuan kemas ulang informasi

1.      Menyajikan informasi ke dalam bentuk kemasan menjadi informasi yang lebih dapat diterima pemakainya dengan cara langsung dapat langsung memberi manfaat dan lebih mudah dimengerti isinya.
2.      Menyediakan informasi dengan cara mensintesa data dan informasi yang tersedia

3.      Menyediakan sarana dan penduannya
4.      Meringkas dan mensintesa penelitian dan kajian atau evaluasi  berbagai aspek
5.      Mengumpulkan informasi mutakhir
6.      Mereviw atau meninjau berbagai literatur dan dokumen

3.3.  Faktor-faktor penting

1.      Produk yang inovatif dan layak jual
2.      Pemasaran
3.      Administrasi dan pengiriman yang baik dan cepat
4.      Kelancaran Ketersediaan sumber informasi dan sarana
a.       Sarana akses dalam dan luar negeri
b.      Komputer
5.      Kerjasama dan koordinasi dengan unit terkait

3.4.  Sarana dan Prasarana yang diperlukan untuk tahap kemas ulang Informasi adalah:

1.      Sumberdaya manusia / personil
2.      Perlengkapan
3.      alat tulis dan Bahan kantor
4.      Training/pelatihan bagi petugas pemula atau yang membantu
5.      Kerjasama antar personil maupun unit terkait

3.5.  Unit terkait yang terkait

Untuk kegiatan diseminasi informasi memerlukan koordinasi dan kerjasama dengan unit-unit lainnya yaitu:
1.      Ketatausahaan (surat-menyurat, pengiriman)
2.      Akuisisi dan manejemen koleksi
3.      Pengolahan informasi
4.      Pangkalan data
5.      Mikrografi dan penjilidan
6.      Jaringan Komputer

3.6.  Tahap Pengemasan informasi

1.      Mendaftar dan mengidentifikasi tujuan
2.      Memeriksa atau mensurvei profil pemakai dan kebutuhan informasinya atau menganalisis kebutuhan informasi pemakai
3.      Memilih sumber-sumber yang mengandung informasi berguna
4.      Mengevaluasi validitas dan reliabilitas informasi
5.      Mereview, menganalisis, mensintesa dan mengekstrak informasi kedalam bentuk informasi yang lebih efektif dan efisien bagi pemakai
6.      Mengemas kembali informasi ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pemakai
7.      Menyebarkan informasi dengan cara promosi, pendidikan pemakai dan memasarkan informasi tersebut
8.      Mengevaluasi timbal balik dari pemakai




3.7. Prosedur

Sebelum membuat kemasan informasi, perlu diketahui langkah-langkah dalam proses pengemasan informasi, yaitu:

1.      Menyeleksi dan menetapkan topik dari kemasan yang akan dibuat dan informasi yang akan dicakup. Menurut Kothler, untuk menentukan topik, perlu dikumpulkan berbagai masukan dan ide-ide yang biasanya berasal dari: konsumen/pemakai produk dan jasa (prosentasi paling banyak), ilmuwan, pesaing, karyawan, saluran pemasaran, manajemen puncak/pengambil kebijakan.

2.      Menentukan strategi dalam mencari informasi

Kegiatan meliputi: menentukan jenis informasi yang dibutuhkan, dan jenis sumber informasi yang dapat membantu menemukan informasi yang dibutuhkan

3.      Menentukan lokasi informasi dan cara mengakses

Kegiatan meliputi: menggunakan katalog perpustakaan, menggunakan indeks majalah, mencari informasi di internet, CD-ROM.

4.      Menggunakan informasi dengan cara mengevaluasi dan mensitir informasi.

5.      Mensintesa yaitu mengemas informasi.

6.  Mengevaluasi produk yang dibuat, dan mengevaluasi proses pembuatannya.

Untuk membuat suatu kemasan informasi yang baik, harus didukung oleh informasi penting yang cukup atau memadai.

3.8. Jenis-jenis Kemasan Informasi

Kemasan informasi dibuat sesuai dengan kebutuhan informasi bagi pemakai. Berdasarkan jenisnya, kemasan informasi dibedakan menjadi:

1.  Berbagai publikasi, seperti: Brosur, Newsletter, Majalah Kesiagaan Informasi, Majalah
Abstrak dan Indeks, Bibliografi, Karangan Baru, Presentasi Lisan, disajikan dalam web, Tinjauan Perkembangan Baru, Tinjauan Literatur, Monografi, Prosiding Konferensi, Laporan Teknis, Laporan Bisnis atau Laporan Manajemen, Buku Panduan, Direktori, Katalog, Majalah Primer
2.      Media dengar pandang.
3. Kemas ulang dalam bentuk Pangkalan data bibliografi, atau lainnya dalam media CD-ROM, WEBSITE

4.  Jasa Kemasan Informasi di PDII

1.      Merupakan jenis jasa informasi yang sifatnya proaktif. Sehingga perlu dilakukan survei produk apa yang diinginkan pasar
2.      Penyajian informasi dalam bentuk tercetak maupun elektronik (Web, CD-ROM)
3.      Dalam  proses  pengolahan  sampai  pada  penyajian  informasi  diperlukan  koordinasi

dengan unit-unit lain yaitu pangkalan data, jaringan komputer dan percetakan.
4.
Diperlukan pemasaran untuk
produk yang dihasilkan
5.      Diperlukan evaluasi terhadap produk yang dihasilkan

4.1  Pemakai Jasa Kemasan PDII:

   1.      Civitas PDII
·         untuk mengikuti perkembangan bidang dokinfo dan menekuni kompetensi inti karyawan)
  2.      Civitas LIPI
·         karyawan peneliti dan non peneliti)
  3.      Peneliti

·         lembaga litbang negeri maupun swasta
        4.      Mahasiswa
          ·         dalam rangka penelitian untuk skripsi, tesis dan disertasi 
5.      Pengambil kebijakan
·         Untuk pengambilan keputusan dan kebijakan
6.      Karyawan dan Dosen
·         Untuk mendukung kegiatan termasuk mengajar, membuata karya ilmiah dll
7.      Pengusaha (kecil dan menengah)
·         Skala rumah tangga sampai pabrik


Tabel 1.  Jenis Kemasan berdasarkan Status Pemakai

Status Pemakai
Jenis kemasan

Jasa Kemasan PDII



•
Fokus Informasi



•
Indonesia sesuai bidang


Penyebaran Informasi
Info Ristek


Terseleksi
•
Info HaKI

Peneliti

•
Tinjauan literatur

Dosen





Kesiagaan Informasi
•
Informasi Kilat


•
Buletin Info Kilat


(Current Awarnness


•
Kumpulan Abstrak


Services)


•
Database suatu bidang




Pengambil Kebijakan
Ringkasan Eksekutif
•
Info Ristek

•
Ringkasan Eksekutif






•
Pohon Industri

Industri kecil - Menengah
Brosur
•
Panduan Usaha

Pamflet
•
Info TTG





•
Kliping

Industri besar
Proposal pabrik
Studi kelayakan pabrik


4.2.  Penjelasan Jasa Kemasan di PDII

1.      Fokus Informasi Indonesia sesuai bidang

Disajikan bagi para ilmuwan, baik peneliti, dosen maupun masyarakat yang ingin mengikuti perkembangan informasi iptek Indonesia secara berkesinambungan. Publikasi ini dalam bentuk kumpulan abstrak dari majalah ilmiah indonesia yang diterbitkan setiap 2 bulan, terdiri dari bidang farmasi, biologi, kesehatan, kimia, komputer, lingkungan hidup, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, manajemen, perpustakaan, teknologi pangan dan rekayasa.

2.      Info Ristek

Memuat informasi mengenai topik/permaalahan yang perlu mendapat perhatian untuk membantu penentu kebijakan mencari solusinya.

3.      Info HaKI

Informasi ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan masalah HaKI di kalangan para peneliti, industriawan dan praktisi hukum agar dapat mengikuti dan mengetahui hal yang berkaitan dengan Hak atas Kekayaan Intelektual, seperti : hak paten, hak cipta dan merk. Info HaKI disajikan dalam bentuk artikel yang diterbitkan setiap 3 bulan.

4.      Paket Informasi Teknologi

              Merupakan kumpulan informasi ilmiah mengenai tinjauan perkembangan teknologi suatu bidang   
              tertentu. Memuat informasi terseleksi mengenai ide-ide baru untuk dikembangkan, yang bersumber 
              dari buku, laporan penelitian, majalah, paten, hasil seminar, standar, dll. PDII – LIPI telah berhasil 
              memenuhi pesanan PITI dari berbagai kalangan industri dan peneliti sejak tahun 1987. Dengan 
              memesan paket ini, Anda tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan informasi yang 
             dibutuhkan.

       5.      Informasi Kilat

       Pelanggan informasi kilat akan memperoleh fotokopi daftar isi majalah ilmiah luar negeri, baik yang    
     dilanggan PDII maupun yang ada di luar negeri sesuai dengan frekuensi terbit dari majalah yang dipilih.


       6.      Buletin Abstrak
      Pelanggan buletin abstrak akan memperoleh abstrak artikel dari majalah ilmiah luar negeri yang           
      dipilih sesuai dengan frekuensi terbit majalah yang dipilih


       7.      Kumpulan Abstrak

Setiap bulan pelanggan akan memperoleh informasi terbaru berupa abstrak dari berbagai majalah ilmiah luar negeri sesuai topik yang diminati.

       8.      Database suatu bidang

Memuat kumpulan bibliografi dan abstrak hasil penulusuran literatur dari beberapa topik dalam satu bidang. Sumber informasi yang digunakan antara lain : Koleksi perpustakaan PDII- LIPI, CD-ROM, Internet, Chemical Abstrack, dan informasi lainnya. Karena dalam bentuk database sehingga dapat ditelusur dengan menggunakan indeks pengarang, kata kunci dll

       9.      Pohon Industri

Disusun dengan tujuan memberikan gambaran jenis-jenis produk yang dapat dibuat dari suatu komoditas. Diharapkan dari informasi yang dibuat dapat merangsang pengusaha untuk melakukan dan mengembangkan diversifikasi produk yang bernilai
ekonomi.
Contoh : Kelapa, Kelapa Sawit, Pisang, Kedele, Saga, Singkong, Jambu Mete, Sapi, Ikan dll

      10.  Panduan Usaha
  
Merupakan petunjuk praktis untuk mengembangkan atau mendirikan suatu usaha dalam skala rumah tangga, Industri kecil dan menengah. Melalui informasi ini diharapkan masyarakat dapat mencoba melakukannya sendiri. Informasi yang dicakup meliputi bahan baku, peralatan, biaya, dan informasi lain yang terkait
Contoh : Papain, Bubuk Cabe, Tepung Ikan, Nata de Coco, Kecap Air Kelapa, Tepung Tempe, dll

      11.  Paket Penawaran teknologi

Untuk memberikan wawasan bagi usaha kecil maupun menengah dan Pem-Kab dan Pem-Kot dalam mengembangkan produk melalui teknologi yang telah dikembangkan oleh Lembaga Penelitian Indonesia. Disajikan dalam bentuk informasi yang mencakup tingkat pengembangan produk, uraian singkat, keuntungan ekonomis dan teknologi.

      12.  Seri Info TTG

Berisi daftar tulisan mengenai teknologi sederhana dalam berbagai bidang usaha yang dikumpulkan dari majalah, buku, kliping korang, standar dan paten.

      13.  Pangkalan data Teknologi tepat guna

Tersedia lebih dari 15.000 data kumpulan informasi teknologi sederhana dalam pangkalan data yang bisa diakses melalui jaringan internet. Info ini ditujukan untuk masyarakat yang ingin mengembangkan usaha dan diversifikasi produk, seperti panga 



5. Penutup

Kegiatan pengemasan informasi menghasilkan produk yang mengikuti perkembangan karena kemasan dibuat dengan sengaja untuk memenuhi kebutuhan pemakainya. Produk yang dihasilkan akan memberi dampak kepada pemakainya tergantung dari kreatifitas perencana, penyusun serta penyebaran/promosinya. Keuntungan yang diperoleh dengan produk yang dihasilkan adalah “trade mark” dari produsennya/penghasil kemasan serta manfaat bagi pemakainya. Apabila kedua hal tersebut berhasil maka akan berdampak pada permintaan-permintaa selanjutnya dan lain-lain.

6.  Daftar Referensi

1.  Djatin Jusni dan Sri Hartinah. Pengemasan Dan Pemasaran Informasi: Pengalaman PDII-LIPI. Disampaikan dalam rangka Seminar Ilmiah Ikatan Pustakawan Indonesia, Jakarta, 21 November 2001

2.      Medical Research Council of South Africa, 2001 - PO Box 19070, 7505 Tygerberg, South Africa http://www.mrc.co.za/services/information.htm
3. Repackaging the information. Module five: synthesis – discussion http://www.du.edu/~miclark/tutorial/mod5_1.htm
4.      Valls, Jacques (Valls-1)
Activities of specialized information centers: Repackaging information
Dalam : Information Services for Developing Countries. Bangkok: Asian Institute of Technology, 1983. Hal. 35-65